Istilah teknis faraidh yang dipakai di seluruh bundle, diurutkan supaya mudah dicari. Bentuk Arab diberikan sekali; setelah itu istilah dipakai apa adanya.
| Istilah | Arti dalam faraidh |
|---|---|
| ’Ashabah (عصبة) | Ahli waris tanpa bagian tetap; menerima seluruh sisa setelah furudh — bisa banyak, bisa nol (bab 04) |
| ‘Ashabah bil-ghair | Perempuan yang menjadi ‘ashabah karena saudara laki-lakinya (anak pr + anak lk, dst.), bagi 2:1 |
| ’Ashabah ma’al-ghair | Saudari kandung/seayah yang menjadi ‘ashabah karena mewarisi bersama anak/cucu perempuan |
| Ashlul-mas’alah (asal masalah) | Angka pokok pembagian: KPK penyebut semua furudh yang hadir (bab 06) |
| Ashabul furudh | Para pemilik bagian tetap: 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, 1/6 (bab 03) |
| ‘Aul (عول) | Menaikkan asal masalah saat jumlah furudh melebihinya; semua bagian menyusut proporsional (bab 07) |
| Dzawil arham | Kerabat non-furudh non-‘ashabah (cucu dari anak pr, kakek dari ibu, bibi, dst.); mewarisi hanya saat keduanya tak ada, dengan metode tanzil (bab 09) |
| Furudh / faridhah | Bagian yang ditetapkan nash |
| Gharqa / hadma | Korban tenggelam/tertimbun — kiasan untuk semua yang wafat bersamaan tanpa diketahui urutannya; tidak saling mewarisi |
| Hajb (حجب) | Terhalangnya ahli waris oleh yang lebih dekat: hirman (gugur total) atau nuqshan (bagiannya turun) (bab 05) |
| Haml | Janin dalam kandungan; mewarisi bila sudah dikandung saat muwarrits wafat dan lahir hidup |
| Jami’ah | Asal gabungan dalam munasakhat (masalah pertama × wafq masalah kedua) |
| Juz’us-sahm | Angka pengali tashih |
| Kalalah | Mayit tanpa keturunan dan tanpa ayah; syarat mewarisinya para saudara (An-Nisa 12 & 176) |
| Khuntsa musykil | Orang yang jenis kelaminnya tak dapat dipastikan; dihitung dua skenario, diberi yang terkecil |
| Mafqud | Orang hilang yang tak diketahui hidup-matinya; menunggu putusan hakim |
| Mahjub | Tergugurkan oleh ahli waris lain — tapi keberadaannya masih bisa memengaruhi orang lain |
| Mamnu’ | Tertolak karena penghalang (pembunuhan, beda agama, budak) — dianggap tidak ada sama sekali (bab 02) |
| Mawani’ | Penghalang-penghalang waris |
| Munasakhat | Kematian beruntun sebelum harta dibagi; diselesaikan dengan dua masalah + jami’ah (bab 12) |
| Muwarrits / warits / mauruts | Pewaris (mayit) / ahli waris / harta warisan — tiga rukun waris |
| Al-Minbariyyah | Kasus ‘aul 24→27 (istri+ayah+ibu+2 anak pr) yang dijawab Ali di atas mimbar |
| Al-Musytarakah (al-Himariyyah) | Kasus suami+ibu+2 sdr seibu+sdr kandung; furudh habis, saudara kandung nol menurut tarjih yang dipakai (bab 08) |
| Radd (رد) | Mengembalikan sisa harta kepada ashabul furudh (selain suami/istri) secara proporsional, saat tidak ada ‘ashabah |
| Tanzil | Metode dzawil arham: menempatkan tiap kerabat pada posisi perantaranya |
| Tashih | Mengalikan seluruh masalah agar saham tiap kepala bulat |
| Tirkah | Seluruh harta peninggalan mayit sebelum dikurangi hak-hak yang mendahului warisan |
| Al-‘Umariyyatain | Dua kasus (pasangan+ibu+ayah) di mana ibu mendapat 1/3 dari sisa — keputusan Umar |
| Wafq | Hasil pembagian dengan FPB dalam tawafuq (dipakai di tashih dan jami’ah) |
| Wala’ | Hubungan waris karena memerdekakan budak |
Kembali ke README untuk peta bundle, atau ke 15-referensi untuk sumber.